Kategori
Jumat, 26 Juni 2009
SURAMADU,OBYEK WISATA BARU DI JAWA TIMUR
Setelah diresmikan oleh Presiden RI Dr.H.Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 10 Juni 2009 yang lalu,Jembatan Suramadu yang menghubungkan Kota Surabaya dan Madura ini tak ubahnya sebuah obyek wisata baru yang menarik banyak orang untuk melihat dari dekat jembatan terpanjang di Indonesia ini (bukan terpanjang se Asia Tenggara,Penang Bridge 13,5 Km sedangkan Suramadu "hanya" 5.438 Km) .Sampai saat ini masih banyak sekali pengunjung dari berbagai kota terlebih pada akhir pekan,ini terlihat dari plat nomor kendaraan yang melintas disana.
Baca Selengkapnya......
Diposting oleh
ferry
di
20.00
0
komentar
Label: Travelling
Jumat, 24 Oktober 2008
JALAN-JALAN KE SINGARAJA
Pada artikel jalan-jalan sebelumnya saya pernah mengajak anda untuk berkunjung ke Campuhan di Ubud,Bali, sekarang saya akan mengajak anda berkunjung ke kota Singaraja.
Selama ini mungkin kita kurang begitu familiar dengan nama kota Singaraja apalagi kabupaten Buleleng, padahal menurut sejarahnya pada abad ke-17 dan abad ke-18 Singaraja merupakan pusat kerajaan Buleleng. Pada tahun 1846 bangsa Belanda menjajah bagian Bali utara. Kemudian Singaraja sempat menjadi ibu kota Kepulauan Sunda Kecil dan ibu kota Bali sampai tahun 1958, (nah lo.. baru tau kan??)
jadi sebelum Denpasar menjadi ibukota propinsi Bali,dahulunya Singaraja merupakan pusat pemerintahan di pulau Bali,saat ini Singaraja merupakan ibukota kabupaten Buleleng.
Untuk menuju kota ini dapat ditempuh selama lebih kurang 3 jam dari kota Denpasar dengan menggunakan mobil atau bis,sepanjang perjalanan kita dapat menikmati pemandangan maha karya Tuhan yang sangat-sangat beautiful alias indah. Sehingga perjalanan kita tidak akan membosankan.
Suasana kota ini sangat sejuk dan nyaman,tidak sepadat dan sebising Denpasar dan memiliki banyak sekali obyek wisata yang tidak kalah indahnya dengan obyek wisata di kabupaten lain di Bali.
Yang paling tersohor adalah Pantai Lovina, terletak sekitar 9 Km sebelah barat kota Singaraja, ini merupakan salah satu obyek wisata yang ada di Bali Utara. Wisatawan baik asing maupun lokal banyak yang berkunjung ke sana, selain untuk melihat pantainya yang masih alami, juga untuk melihat ikan lumba-lumba yang banyak terdapat di pantai ini. Dengan menyewa perahu nelayan setempat, kita dapat mendekati lumba-lumba. Berbagai penginapan mulai dari Inn hingga Cottages tersedia dengan harga yang sangat terjangkau.
Air Terjun Gitgit
Air Terjun ini terletak di Desa Gitgit Kecamatan Sukasada. Dari Kota Singaraja berjarak 11 km ke arah selatan menuju Desa Pancasari dan Bedugul. Air terjun yang berketinggian ± 35 meter ini sangat asri dan memiliki panorama yang indah dan berada di lingkungan yang berhawa sejuk.
Turun dengan jalan kaki setelah melewati tempat Parkir Gitgit, beberapa pemuda lokal yang diorganisir oleh desa adat setempat menawarkan jasa mengantar para wisatawan menuju wisata air terjun yang indah ini. Disamping suara deburan air terjun dan kicauan burung, hamparan sawah, perkebunan cengkeh dan kopi / begitu pula tumbuhan bambu sepanjang jalan menuju air terjun menyuguhkan suasana damai dan alami.
Gedong Kertya dan Museum Buleleng
Gedong Kertya dan Museum Buleleng terletak di lingkungan Pura Seni Sasana Budaya Singaraja, tepatnya di jalan Veteran no. 23 Singaraja. Gedong Kertya adalah perpustakaan lontar yng ada hanya satu-satunya di Indonesia bahkan di dunia. Terdapat koleksi dan salinan teks tulisan tangan yang berhubungan dengan Kesusastraan Bali, mitos, pengobatan, mantra-mantra, sastra religius dan lain-lain. Terdapat juga lontar berisikan gambar berbentuk komik yang disebut “prasi”. Terdapat sekitar 4000 lontar tersimpan di perpustakaan ini yang disimpan dalam sebuah kotak kayu.
Beberapa meter di sebelah timur Gedong Kertya, terdapat Museum Buleleng yang didirikan pada tanggal 30 Maret 2002, dimana tersimpan koleksi-koleksi yang meliputi benda-benda Peninggalan Purbakala seperti sarkofagus, patung, senjata dan lainnya. Benda-benda Seni seperti Lukisan, kain-kain, Kerajinan Emas dan perak dan lainnya benda-benda yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat Bali Utara seperti alat pertanian dan alat nelayan.
Pelabuhan Buleleng
Terletak disebelah pesisir utara Kota Singaraja. Dijaman dulu ketika Singaraja sebagai ibu kota dari Nusa Tenggara adalah merupakan pusat pelayaran yang penting. Keputusan memindahkan Ibu Kota Propinsi Bali dari Bali Utara ke Bali Selatan adalah berdasarkan dibaginya Nusa Tenggara menjadi 3 propinsi, membuat Pelabuhan Buleleng menjadi kurang berfungsi. Kemerosotan pelabuhan buleleng mencapai puncaknya ketika pembangunan Pelabuhan Celukan Bawang ± 40 km arah Barat Singaraja.
Namun sejak Tahun 2005 bekas Pelabuhan Buleleng ini telah ditata oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Buleleng dengan penataan taman serta bekas dermaga kayu yang sudah usang diperbaharui dilengkapi dengan sarana restauran terapung.
Puri Buleleng
Sampai saat ini rakyat Buleleng masih bangga memiliki sisa bangunan Puri Raja Buleleng yang dibangun Dinasti Ki Barak Panji Sakti yang tersohor. Dua puri yang ada sekarang ini diantaranya satu terdapat di Jalan Veteran dan lainnya terdapat di Jalan Gajah Mada. Bangunan yang ada di dalamnya baik tempat tidur, kamar tamu, pertamanan, merajan (tempat suci), perpustakaan dan senjata-senjata, masih tersimpan rapi dan disakralkan oleh keluarga raja. Perhatian pemerintah daerah terhadap puri ini sudah menampakan kemajuan. Ini terbukti dengan datangnya bantuan pemerintahan dengan merehabilitasi bagian-bagian beberapa bangunan kedua puri yang hampir mendekati kerapuhan. Wisatawan bisa mengunjungi kedua puri ini kapan saja terhitung mulai pukul 8.00 sampai 5.00.
Desa Beratan
Desa Beratan terletak disebelah selatan Kota Singaraja. Kurang lebih berjarak hanya 1 km dari Pusat Pemerintahan Kabupaten Buleleng. Desa ini dikenal sebagai pengrajin emas dan perak. Pengrajin setempat memiliki style unik yang terkenal dengan Style Beratan. Wisatawan dapat berkunjung ke tempat pengrajin bekerja sambil melihat-lihat cara pengrajin mengolah bahan mentah menjadi bahan kerajinan emas dan perak. Hasil karya mereka juga dipajangkan dan bila berniat wisatawan boleh membeli.
Pura Dalem Sangsit adalah sebuah pura yang terletak sekitar 8 km dari Singaraja, Bali dan sekitar 500 km dari Sangsit. Pura ini diperuntukkan bagi dewa-dewi Hindu di kala orang meninggal. Pura ini terletak di dekat sebuah kuburan. Relief pura ini terutama menceritakan mitologi Bali Bima swarga atau Bima di kahyangan, yang merupakan bagian dari epos Mahabharata. Di sini diceritakan bagaimana perjalanan Bima ke neraka dan surga dalam rangka mencari ibunya.
Air Sanih atau Yeh Sanih adalah tempat wisata yang terletak sekitar 17 km dari Singaraja, Bali. Tempat ini merupakan tempat permandian dengan sumber air. Menurut legenda tempat ini merupakan tempat permandian bagi pasangan muda. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, sumber air ini mempunyai asal-usul dari Danau Batur yang letaknya ratusan kilometer dari tempat ini. Air dari sumber ini sering digunakan dalam upacara agama Hindu. Di tempat ini juga dapat ditemui pura yang diujukkan kepada dewa Wisnu.
Rice Terrace Ambengan
Ambengan, sebuah desa yang posisinya di atas bukit hijau di Kecamatan Sukasada yang jaraknya sekitar 6 km sebelah selatan kota Singaraja. Karena letaknya di daerah perbukitan serta mayoritas penduduknya bertani, desa ini dihiasi oleh hamparan sawah yang sangat indah. Disamping potensi terraseringnya, Ambengan juga memiliki lebih dari empat air terjun dan beberapa buah kolam alami yang cukup lebar serta sangat eksotis yang sering disebut sebagai sebuah taman yang tersembunyi, dimana para wisatawan bisa berenang sambil menikmati hawa sejuk.
Selain obyek wisata diatas,masih banyak lagi tempat-tempat indah lainnya yang wajib dikunjungi.Nah kalau anda sedang liburan ke Bali luangkanlah waktu untuk berkunjung ke Singaraja, dijamin gak bakal rugi deh.
Diambil dari berbagai sumber dan pengalaman pribadi.
Foto diambil dari SINI
Diposting oleh
ferry
di
07.48
10
komentar
Label: Travelling
Minggu, 29 Juni 2008
MEMBANGUN SURGA DI MARUYUNG
Mereka membuka kampung hijau. Hidup secara organik. Memenuhi kebutuhan sendiri. Dan, makmur.
Matahari mulai tergelincir ke ufuk barat, meninggalkan rona kemerahan membias di cakrawala. Tsabitah berlari menghampiri bundanya, memamerkan gaun putihnya yang kotor terkena tanah. Bocah perempuan itu bersama adik dan belasan sepupunya baru saja kembali mencari tutut, sejenis keong kecil, di sawah. Dengan bangga ia bercerita mereka berhasil menangkap tutut sore itu. Setelah dimasak, dalam sekejap, tutut-tutut itu tandas, masuk ke perut mereka.
Tak puas hanya mencari tutut, sebelum mandi sore, Tsabitah kembali bermain air bersama Azam, adik lelakinya. Genangan air di atas hamparan rumput yang baru saja disiram air irigasi menjadi arena bermain yang menyenangkan. Mereka memekik kegirangan dan tergelak sambil berseluncur dan berlarian di hamparan rumput.
Begitulah aktivitas anak-anak penghuni "Kampung 99 Pepohonan". Orang sering menyebut kampung itu Kampung Rusa, karena di tempat ini terdapat lima ekor rusa jenis timorensis. Keseharian anak-anak di sini tak lepas dari alam, mulai dari menangkap ikan, menanam pohon, menanam padi, sayuran, dan membuat roti. Keluarga besar Bagas Kurniawan, 39 tahun, memang memfokuskan kegiatan anak-anak mereka bergulat dengan alam. Keluarga ini menjalankan konsep gaya hidup organik, kembali ke alam.
Di lahan seluas 5 hektar di Desa Meruyung, Cinere, Depok, Jawa Barat, ini sepanjang mata memandang yang tampak hanyalah deretan pepohonan dan rumah panggung dari kayu. Di antaranya pohon meranti, trembesi, ulin, menteng, gandaria, bintaro, kemang, bambu, dan mahoni.
Kicau burung dan suara binatang lain menambah harmoni komposisi alam. Membuat siapa pun yang datang enggan beranjak. Lahan hunian dengan basic farming dan botanical forest ini terbentang memanjang di antara dua sumber air yang tak pernah kering, kali irigasi yang sudah ada sejak zaman Belanda dan Sungai Pesanggrahan. Deretan pohon jati putih yang baru berusia 20 bulan di sekeliling kampung itu menambah keasrian dan kesejukan. Kontur tanah yang berjenjang menambah keindahan pemandangan kampung yang dihuni 10 keluarga ini.
Bagas tak pernah membayangkan lahan yang mulai mereka tanami sejak tahun 2002 itu akan menjadi areal hunian yang hijau, rindang, dan sejuk dalam waktu yang cepat. Pasalnya, ketika awal menanam, lahan ini adalah areal persawahan kritis yang gersang karena pestisida. "Petani kita kan maunya instan. Mereka semprotkan segala macam pestisida," katanya.
"Pohon jati putih
ternyata bisa
mengikat suhu"
(Bagas)
Selain itu, saluran irigasi untuk mengaliri sawah juga rusak berat. Tanahnya pun pecah-pecah. Pohon yang tumbuh di sana mulanya hanya tujuh batang, yaitu pohon rengas, jambu, dan mangga. Padahal, kata warga setempat, dulu kawasan ini merupakan bukit yang lebat. "Awalnya di sini panasnya mencapai 41 derajat celsius, " tambahnya.
Kegiatan menanam itu dilakukan seluruh keluarga yang sebelumnya berdomisili di Kebayoran Baru dan Bintaro, Jakarta Selatan. Hampir setiap hari mereka datang ke Meruyung untuk menanam dan beternak. Saluran irigasi yang rusak diperbaiki. Kolam-kolam pun mulai dibangun dan disi ikan patin, nila, bawal, dan gurami. Sawah-sawah mulai ditanami padi tanpa menggunakan pestisida. Gaya hidup organik mulai diterapkan.
Ternyata berhasil. Perlahan suhu udara di Kampung 99 Pepohonan turun. Kini pada malam hari suhu mencapai 14 derajat celsius. Menurut Bagas, itu berkat pohon jati putih. "Pohon jati putih ternyata bisa mengikat suhu dan melepaskan dalam bentuk cairan. Jadi, kalau kita ada di bawahnya akan melihat ada cairan menetes, makanya lembab," katanya.
"Kami dapatkan sesuatu di tanah yang semula gersang ini, yang tidak pernah kami bayangkan," kata sosiolog perekonomian ini.
Hunian yang ramah lingkungan dan terbuka kini mulai dibangun. Luas setiap rumah kayu yang dibangun tak lebih dari 100 meter persegi, tanpa pagar, dan dibangun bersama oleh seluruh penghuni Kampung 99 Pepohonan. Setiap keluarga mempunyai kolam penyangga untuk memelihara ikan atau ternak dan kebun minimal 100 meter persegi.
Kayu yang digunakan untuk membangun rumah bukanlah kayu yang mahal. Mereka menggunakan kayu yang mudah ditemukan di sekitar Meruyung. "Kami pakai kayu kampung. Di sini banyak perumahan, yang ketika membangunnya, developer melakukan land clearing tanah. Sebelum dibuldozer, tanaman itu kami bayar. Kami potong sendiri, belah, dan rendam 12 bulan di sungai biar awet," tutur Bagas.
Kampung 99 Pepohonan mulai dihuni pada tahun 2005. Menurut Teddy, adik Bagas, yang lebih sulit justru mengubah perilaku dan kebiasaan untuk menyesuaikan kehidupan alami di kampung ini. Dulu menanam pohon diprotes warga sekitar. "Warga sekitar takut ada ‘penunggunya'. Tapi dikasih pengertian bahwa pohon itu tujuannya untuk menguatkan tanggul kali irigasi," ujar pria berusia 33 tahun ini.
Ekosistem di kampung ini mulai membaik. Alhasil, binatang-binatang liar berdatangan, mulai dari kunang-kunang, tupai, ular, hingga biawak. Semua tumbuh dan berkembang di sini.
Bagas dan Teddy menjaga ekosisitem ini. Semua penghuni dilarang menebang pohon, memetik daun, membuang sampah sembarangan, apalagi sampah plastik. Agar lingkungan asri dan udara segar terus didapatkan, seluruh penghuni tidak merokok.
"Inilah yang dibilang
ekonomi barter."
(Teddy)
Kata Teddy, dulu hampir semua keluarganya perokok berat. Dia biasa menghabiskan lima bungkus rokok per hari. Karena tekad yang kuat mewujudkan hunian impian, mereka bersepakat berhenti merokok. Mereka tabung uang rokok untuk membangun rumah yang kini mereka tempati.
"Dulu saya tinggal di Bintaro. Saat liburan, bangun pagi anak-anak langsung menyetel teve, play satation, komputer atau pergi ke mal. Sehari-hari berinteraksi dengan alat. Jadi takut ketemu orang, social phobia. Mereka jadi manusia yang apatis," katanya.
Bukan hanya mengonsumsi semua makanan yang alami, mereka juga membangun hubungan sosial dengan pola baru. Hubungan antartetangga dibangun atas dasar keterbukaan dan kolektivisme. Teddy mencontohkan, untuk menjaga agar konservasi ekosistem yang mereka rancang tidak rusak, pembuangan limbah rumah tangga sangat diperhatikan. Dia merancang "sistem satu laundry, satu dapur, dan satu sumur". Kegiatan mencuci pakaian dipusatkan di rumah seorang penghuni yang dekat dengan Sungai Pesanggrahan. Memasak dilakukan dengan menggunakan kayu bakar yang diperoleh dari ranting atau dahan pohon yang berguguran dan dipusatkan di rumah penghuni lain yang gemar memasak.
Agar lebih hemat, mereka menjalankan sistem barter. "Kami tetap dapat nota bon dari yang laundry, yang laundry dapat bon dari yang masak. Jadi, kami bisa bayar bukan dalam bentuk uang, tapi mencuci baju. Itulah yang dibilang ekonomi barter,"ujar ayah tiga anak ini.
Agar air tanah tidak cepat habis, kampung ini hanya memiliki satu sumur. Dengan menara air yang cukup besar, air dialirkan ke sepuluh rumah, musala, dan kafe. Menyiram rumput dan tanaman tidak menggunakan air tanah, melainkan dengan air kali irigasi, untuk menghemat air tanah.
Kampung ini memproduksi sendiri seluruh kebutuhan pangan sehari-hari bagi penghuninya, seperti beras bebas, pupuk, roti tanpa pengawet, keju, susu, madu, sayur-mayur, yogurt, dan ikan. Setiap penghuni bebas mengembangkan ide, minat, dan potensi untuk membuat kehidupan di kampung kecil ini semakin lengkap. Pengembangan produk terus dilakukan. "Di sini kami diajak untuk hidup produktif. Semua yang menghuni di sini punya potensi masing-masing," kata Teddy. "Ada yang potensinya jago bikin roti, makanya kami punya pabrik roti. Ada yang jago mengolah ikan, maka kami punya peternakan ikan."
Para penghuni kampung ini bercita-cita menjadi komunitas mandiri. "Semua kebutuhan dipenuhi dari sini semua. Kalau kita mau makan sesuatu, ya tanam dulu. Mau makan ikan, ya pelihara ikan. Mau minum susu, ya ternak sapi," ujarnya.
"Semua kebutuhan
dipenuhi dari sini ."
(Teddy)
Semua yang ada di Kampung 99 Pepohonan ini tak ada yang terbuang. Telur keong emas dan remah-remah sisa pembuatan roti dijadikan pallet untuk makanan ikan. Daun-daun untuk makanan rusa dan dijadikan kompos, yang kini selain dipakai sendiri juga sudah dijual. Ranting-ranting kayu untuk kayu bakar. Kotoran ternak dijadikan pupuk tanaman. Tulang-tulang ikan, ayam, bekas- makanan, dikumpulkan untuk makan ikan bawal. "Tidak ada yang terbuang, nggak ada yang mengendap," katanya.
Menurut Teddy, kini hasil Kampung 99 Pepohonan berlimpah, lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan para penghuninya. Produk seperti yogurt, beras, madu, cuka apel, ikan, dan sayuran sudah mulai dijual ke luar. Kegiatan menanam pun tak pernah berhenti. Setiap hari penghuni kampung ini menanam sepuluh pohon. Inovasi terus dikembangkan, mulai dari pembuatan cuka kelapa, hingga yogurt sukun. Juga memproses air irigasi untuk mandi agar pemakaian air tanah semakin berkurang. Mereka juga membuat pembangkit listrik tenaga kincir air.
Warga kampung itu juga terbuka menerima penghuni baru yang ingin hidup secara organik. "Satu RT saja kayak gini. Jika diterapkan untuk seluruh Indonesia, kita pasti akan kaya. Kita nggak perlu impor lagi, sudah cukup. Kalau perlu malah ekspor," ujar Teddy. (E2)
Sumber :http://www.vhrmedia.com/
Diposting oleh
ferry
di
15.34
2
komentar
Label: Travelling
Senin, 23 Juni 2008
Jalan-jalan Ke Campuan
Tepi campuhan aku sendiri...
Menahan hening redup senja ini..
Tepi campuhan aku menyepi..
Menahan dingin kabut senja ini..
Disini aku sendiri..
Baca Selengkapnya......
Diposting oleh
ferry
di
20.00
0
komentar
Label: Travelling

